.............................................. Juaquino & Filza .........
By Jen Brietta
Separated by Everything
differences of race
differences of place
differences of religion
differences of ambition
differences of tradition
differences of behaviour
will they be together?
let's check it out!
Episode 1
sabtu sore, Filza merasa begitu lelahnya stelah seharian kuliah. sambil berbaring di tempat tidur. ia mencoba untuk iseng-iseng online dengan HP. Sebenarnya hal itu sudah biasa dia lakukan setiap hari karena hobbynya memang chatting. Ketika teman-temannya ingin mengajak keluar pun ia menolaknya, hanya karena untuk chattig bersama teman-teman mayanya.
" uhhh...ini siapa sih, dari tadi marah-marah mulu bikin bete aja gak tau lagi sensi apa." tanya filza seolah-olah berbicara dengan HP-nya. Sementara itu, azalia merasa heran melihat kakaknya bicara sendiri. Ia mengendap endap mendekati filza. Dan segera merebut handphone filza.
"zel, sini kembaliin!" pinta filza
"gak mau ah, lagian kak filza jadi aneh sejak punya hp ini, suka senyum marah sendiri kaya orang gila aja!"
"alah, anak kecil tau apa sih. ."
"eitz. . Gini juga uda SMA tau!"
filza merebut handphone-nya dan pindah ke ruangan lain dengan wajah agak kesal.
Senin pagi, semua telah siap untuk beraktifitas kembali. Mama juga sudah menyiapkan sarapan pagi, papa juga sudah duduk manis di meja makan. Filza tampak mencari-cari adiknya karena selama weekend selalu bertengkar. Suara azalia tidak terdengar pagi ini. Di tempat tidurnya juga tidak ada.
"ma. . .zely udah berangkat ya?" tanya filza
"ia, katanya hari ini dapet tugas jadi petugas upacara."
"berangkat sama siapa mam?"
"dijemput veri"
....................................................................................
Jam istirahat tiba, seperti biasa Azalia, Sherly, dan Milly pergi ke kantin. Untuk makan-makan atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol. Seperto biasa mereka menempati bagian pojok barat laut, padahal disana tepatnya lumayan gelap, hanya karena mereka ingin membicarakan hal yang menurut mereka adalah rahasia.
“zel, beneran kamu sekarang jadian sama Danni?” terus si yoga mau dikemanain.” tanya sherly
”udah aku putusin.”
”hahhh! Tega banget sih cowok sebaik dan secakep dia kamu putusin gitu aja. Mendingan buat aku aja.” kata Milly
”abis gimana ya, bosen. Lagian juga kalian tuh gak tahu tiap hari aku selalu di teror kakak kelas buat mutusin dia. Katanya aku dibilang cewek penggoda lah, centil lah, ah pokoknya ah enak didenger. Ya aku putusin aja.”
Setelah pulang sekolah Azalia, tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi bersama danni untuk berkencan. Hingga tidak terasa larut malam. Berulang kali mama dan papa menghubunginya tetapi malah di non-aktifkan . sampai-sampai papa semapt akan melapor polisi. Tiba-tiba azalia pulang dengan santainya.
”Assalamu’aikum.”
”walaikumsalam darimana kamu?” Tanya papa
”dari rumah temen pa.” jawab Azalia dengan takut
”dari rumah temen? Jam segini baru pulang ngerjain apa aja kamu. Terus kenap handphone kamu dimatikan?”
Begitulah seterusnya papa mengintrogasi anaknya sendiri serbuan kalimat tanya dilontarkannya, apalagi kali ini bukan hal yang wajar dari biasanya. Azalia hanya menuduk dan terdiam tampak matanya berkaca-kaca. Ketika mama ingin mencoba membantu putri bungsunya itu pun hanya disuruh untuk diam. Tiba-tiba papa melihat ke arah Filza yang sedang mendengarkan musik.
”Filza, kamu sebagai kakak seharusnya memberikan contoh yang baik kepada adikmu, bukan malah bermalas-malasan seperti itu!”
”lho kok filza sih pa, aku kan gak pergi kemana-mana. Papa tuh selalu tuh selalu gitu, semuanya Filza yang salah.”
”ia maksud papa, kamu jangan seperti adikmu, bergaul dengan orang-orang yang gak jelas asal-usulnya sembarangan saja dalam memilih teman. Mau jadi apa nanti! Berandal atau penjahat? Perhatikan bibit, bobot, dan bebetnya dan harus yang seiman juga keluarga yang benar-benar baik.”
”papa tuh ngomong apa sih! Jadi males dengernya.” Filza pindah ke kamarnya dengan muka kesal.
Azalia juga pergi ke belakang untuk mandi, dengan muka yang masih penuh rasa takut dan butiran air mata yang telah menetes, ia biarkan begitu saja. Sementara mama menyuruh pembantunya untuk menyiapkan air hangat untuk Azalia. Papa masih berada di ruang tamu dan melihat-lihat ke luar ruangan, mewaspadai mungkin saja kekasih Azalia masih berada disana.
...............................................................................................
Pagi-pagi benar, filza telah berangkat karena ada materi kuliah pagi. Di kampus ia berpapasan dengan seorang gadis yang sudah tidak asing lagi, Meyline juara bintang kampus tahun ini. Ia juga terkenal murah senyum dan baik hati sehingga banyak digandrungi teman-temannya. Sebenarnya, Filza juga sangat mengagumi dia.( Meyline telah berlalu) tiba-tiba segerombol mahasiswi terlihat ramai membicarakan sesuatu. Filza pun mendekati mereka karena merasa penasaran. Sering juga mereka menyebut nama Meyline, hingga membuat Filza semakin penasaran. Ia pun mendekati salah satu diantara mereka.
”eh, ramai banget ada apa sih?” tanya filza
”itu tuh, Memey katanya mau tunangan sama Sonny, aneh banget kan. Terus si Rio mau di kemanain coba?”
Filza tampak mengerutkan keningnya, ia kurang paham dengan cerita gadis itu. Akhirnya Filza pun meninggalkan keramaian dan menuju kelasnya. Di kelasnya juga tampak teman-temannya yang lain sedang meminta undangan dari Sella teman dekat Meyline. Perlahan-lahan ia mendekati Sella dengan wajah yang masih telihat bingung.
” Filza....nih buat kamu, jangan lupa dateng ya?” kata Sella sambil menyerahkan sebuah undangan
Filza tampak membaca-baca sekilas, ” Sel, kamu mau tunangan ya?”
” gak lah, baca dulu dalemnya..... ya udah aku kasih tau, Memey yang mau tunangan.” kata Sella sambil tesenyum.
”oohh..sama Sonny? Cepet banget ya..gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba aja tunangan.”
Sella tampak menunduk, mendengar perkataan Filza.
”Sel, kamu gak papa?”
”uhmm...gak papa ya udah aku ke sana dulu ya masih banyak undangan yang harus dibagikan.” Kata sella sambil meninggalkan Filza
Filza kembali bingung dan heran. Ia menjadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
..........................................................................................................................................................
Satu minggu lagi Meyline bertunangan dengan Sonny, tetapi ia tidak kelihatan bahagia. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk melamun di kamarnya. Namun ia pandai sekali menutupi perasaannya itu ketika ada orang lain, kecuali Sella. Ia mengerti benar apa yang di inginkan sahabatnya itu. Sabtu sore Sella mengunjungi rumah Meyline, di
“ bik, Memey nya ada?”
“ada non, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk”
Beberapa menit kemudian Meyline muncul dengan senyum kecil di bibirnya yang mungil. Ia juga tampak menyapa kerabatnya yang lain. Kemudian ia memberi isyarat kepada Sella untuk mengikutinya ke taman belakang rumahnya. Mereka duduk berhadapan, tetapi pandangan Meyline mengarah pada barisan bukit yang jauh tak tahu dimana tempatnya.
” Mey, serius loe mau tunangan?” kata Sella memecah kesunyian
” Hmm...” angguk Meyline dengan wajah yang gelisah
” jadi loe udah gak percaya lagi sama Rio? Karena dia gak ngasih kabar ke loe sampai sekarang”
” Sel, kamu tahu sendiri gimana kehidupan di luar negeri apalagi di Jerman. Mungkin dia udah punya cewek lain di sana makanya dia ngelupain aku.” kata Meyline sambil berkaca-kaca
”tapi Mey, loe kan masih muda jalan hidup loe masih panjang, kenapa mesti terburu-buru.”
”aku udah mikir mateng2 sel, aku yakin sonny bisa membuat aku bahagia. Kamu tahu kan dia sayang banget sama aku.”
”ia gue ngerti..... terus bagaimana dengan rio kalau ternyata dia balik lagi kesini?”
Meyline tampak terdiam memikirkan sesuatu. Ia menunduk dan bingung. Sella menjadi sedih melihat nasib temannya itu, ia bergumam,
” kasihan banget sih loe, udah setia malah di tinggalin gitu aja sama rio.” Sella menghembuskan nafas panjangnya
” aku yakin rio bakalan dapet cewek lain yang lebih baik dari aku, jadi aku akan ngelupain dia. Dia adalah kenangan indah bagian dalam hidupku. Hubungan aku dan dia sudah berakhir.”
Tidak lama kemudian Sella melihat wajah Meyline tampak pucat, tidak seperti biasanya.
” Mey, loe gak papa? Kamu sakit ya?”
”gak, mendingan kita ke dalem aja yuk. Gak usah dibahas lagi, keputusanku udah bulat aku akan tunangan sama Sonny.”
Mereka pun masuk kedalam rumah setelah lama berbincang-bincang.
...................................................................................................................................................................
Malam ini terasa begitu sunyi, Meyline tampak bersandar pada dinding kamarnya menatap kea rah sinar bulan yang tengah purnama sangat terang. Ia merasa tetap gelap, ia teringat semua masa lalunya dengan Rio, kadang-kadang ia ragu tentang keputusannya. Dia masih sangat mencintai Rio, bagaimana pun Rio pernah membuka hatinya untuk merasakan hal yang paling terindah dalam hidupnya. Semenjak Rio pergi ke Jerman, semuanya memang berubah. Ia menjadi kesepian, tanpa sedikit pun kabar dari Rio. Walaupun Meyline mencoba untuk setia, tetapi berbagai hasutan dan cerita miring itu pun membuatnya menyerah, Ia berpikir Rio pasti sudah mendapatkan gadis pujaannya. Lagipula dulu dia juga pernah mengatakan Dia menyukai gadis bermata biru, seperti Cathy teman SMA nya. Hal itu menguatkan niat Meyline untuk melupakan Rio.
“ apa yang terjadi sama kamu Rio, kenapa kamu mudah banget ngelupain aku. Padahal aku udah sayang banget sama kamu. Aku udah ngorbanin segalanya buat kamu. Tapi........kamu malah ninggalin aku.” Gumam Meyline sambil meneteskan air matanya.
Ia teringat kisah-kisahnya ketika pertama kali bertemu. Ketika ia sedang sedih, ketika ia sedang marah hingga mereka bertengkar karena saling egois. Namun lama-lama ia menyadari semua kesedihan yang di hadapi Rio, Kelembutan Meyline juga membuat Rio luluh hatinya. Hingga mereka berdua menjalin asmara. Mereka berjanji akan saling menanti. Hingga Rio harus pergi meninggalkannya, Rio tidak pernah memberikan kabar. Nomer Hp juga diganti, hingga Meyline juga tidak dapat menghubunginya. Hari-hari berlalu, sampai sekarang pun belum ada kabar dari Rio. Sejak Rio pergi, Sonny lah yang selalu ada menemani dirinya. Memberikan apapun yang dia butuhkan, kasih sayang dan dukungan, tak pernah juga ia menyuruh Meyline untuk melupakan rio, tak seperti teman laki-lakinya yang lain. Namun Sonny juga berulang kali menyatakan perasaannya pada Meyline.
...............................................................................................................................
Hati pertunangan mereka tinggal menghitung hari, tentu semuanya telah di siapkan dari keluarga Meyline maupun Sonny. Mereka merencanakan akan mengadakan pesta yang cukup megah. Karena Sonny merupakan putra tunggal dari keluarganya. Ini merupakan moment yang ditunggu-tunggu. Telah lama ia menanti saat membahagiakan ini. Ia sibuk menyiapkan berbagai asesoris untuk dirinya dan meyline. Ia benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.
Sementara Meyline, ia hanya menghabiskan hari-harinya di kamar. Sejak liburan minggu lalu. Ia bahkan tidak keluar kamar kalau tidak di panggil atau Sella berkunjung ke rumahnya. Ia selalu menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan teman dekatnya itu. Sore ini, Sella mengajak meyline makan di luar untuk sekedar merefreshingkan pikiran. Mereka duduk di suatu sudut ruangan yang tidak begitu terang, tetapi dekat dengan pemandangan alam luar. Meyline terlihat terpaku pada pandangan jauh tidak tahu kemana.
” Mey......” panggil Sella mengawali pembicaraan
Sella menoleh pelan
” Udah siap semuanya?”
”udah....” angguk Meyline pelan kemudian ia mebuang pandangan ke luar lagi
” terus, rencana loe setelah tunangan mau apa lagi?”
Pertanyaan itu membuat Meyline menatap Sella lama namun kemudian menunduk.
” tentu aja nikah....mungkin 3 bulan lagi”
” menikah? Secepat itukah? Tapi kamu kan masih muda banget, usia kamu juga belum genap 20 tahun mey....”
” 3 bulan lagi, aku genap 20 tahun....jadi tidak ada larangan lagi.” kata meyline dengan nada datar
Sella menjadi diam mendengar ucapan Meyline yang terlihat sudah sangat yakin dengan keputusannya itu. Lagipula ia juga tahu kedua pihak telah saling menyetujui karena memang partner kerja. Jadi tidak mungkin ia menasehati lagi.
Tiba-tiba seorang laki-laki berkemeja putih muncul di belakang meyline, dengan wajah yang datar namun penuh dengan emosi yang terkendali. Sella pun terkejut, namun tak sanggup mengatakan sesuatu. Ia hanya memberikan isyarat kepada meyline untuk menoleh ke belakang.
” Rio.....................? ” Meyline kaget dan spontan berdiri
(bersambung)
No comments:
Post a Comment