Translate

Sunday, 9 January 2011

My Love story

Episode Memorize

Langit mulai bertambah kelam, bintang-bintang juga semakin terlihat terang. angin pun bertiup pelan lembut penuh kasih seolah mengerti apa yang sedang di rasakan gadis bermata coklat terang itu. Ia bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke balcony kamarnya memandang ke sekeliling dunia, semuanya tampak tenang tak seperti biasanya begitu dingin dan menusuk tubuh. Tiba-tiba saja pikirannya melayang-layang entah kemana.
Sepulang dari kampus Sasya ingin beristirahat, namun Alvin memaksanya untuk menemaninya makan siang. Walaupun ia merasa begitu lelah, ia sempatkan untuk menemani kekasihnya itu. Ia berusaha menutupi keletihan itu dengan tersenyum manisnya saat Alvin menceritakan semua tentang pengalamannya.
“ Beib, tau gak rata-rata nilai tryout-ku 90.” Kata Alvin bangga
“ udah deh gak usah terlalu bangga, aku juga dulu segitu kok.” Kata Sasya menggoda
“ OK! Lihat aja ntar siapa yang lebih….” Kata Alvin dengan nada marah
Sasya teringat bagaimana keras kepalanya mantan kekasihnya itu, bagaimana gayanya berbicara yang selalu membandingkan dirinya dengan Sasya, seperti seorang anak kecil yang selalu bangga bila di puji oleh ibunya. Itulah yang ia rasakan saat itu.
Bulan ini Sasya harus menghadapi ujian semester, ia berusaha untuk berkonsentrasi untuk itu, namun 2 bulan lagi kekasihnya juga akan menjalani ujian masuk akademi militer. Ia selalu mengatakan membutuhkan dukungan Sasya secara total, kapanpun ia ingin bertemu Sasya ia harus bersedia, hingga setiap malam pun Sasya harus merelakan diri membuka mata hatinya untuk mendengarkan curahan-curahan kekasihnya itu karena ia telah berjanji bila kekasihnya tidak menggangu perkuliahannya, ia akan memberikan waktu malam sepenuhnya untuk dirinya.
Setelah ujian selesai, ternyata sasya mendapatkan nilai yang jelek hampir semua mata kuliah tidak ada yang lulus akhirnya ia harus mengulang ujian kedua. Saat inilah ia merasa marah pada Alvin, malam sabtu ketika hang out bersamanya spontan saja keluar kalimat “ KITA PUTUS ”
“ kenapa putus? Apa salahku beib?” kata Alvin bingung
“ cukup, aku sudah bosan diperlakukan seperti ini, kamu tuh gak pernah mengerti perasaanku, kamu selalu seenaknya memaksa aku, selalu marah ketika aku berbeda dengan pendapatmu.”
“ Aku selalu mengerti kamu, aku sayang banget sama kamu, sungguh. ” Kata Alvin meyakinkan
“ udahlah lebih baik kita pisah dulu, aku pingin focus dengan kuliahku, nanti setelah kamu pindah ke luar kota kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari aku.”
“GAK!!! Aku udah cari ke penjuru dunia, tapi aku Cuma sayang and cinta sama kamu, aku benar-benar membutuhkan kamu di dekatku, jangan tinggalin aku beiby.” Pinta Alvin dengan memegang tangan Sasya penuh harapan.
Spontan saja ia mengatakan semua perbuatan yang pernah ia lakukan kepada Sasya, dan ia dengan begitu polos meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi semua itu.
“ maaf Alvin, aku gak bisa memberikan support lagi. aku juga masih terpuruk, aku harus memperbaiki diriku sendiri. Aku yakin kamu pasti lebih berhasil tanpa aku, bukankah kamu bilang sendiri kamu yang paling hebat”
“ tapi… “
Sasya menggelengkan kepala mengisyaratkan kepada Alvin bahwa ia tidak mempunyai harapan lagi.
“ kamu tega banget beib, kenapa gak sekalian dari dulu kamu putusin aku, kamu emang sengaja ingin membunuh aku atau ingin balas dendam karena nilai kamu jelek? “ kata Alvin dengan nada tinggi namun serak terbata-bata.
Mengingat hal itu, Sasya meneteskan air matanya lagi, ia melihat kalender yang terpajang di kamarnya betapa jelas lingkaran spidol warna merah itu pada tanggal 16 belum begitu lama. Semua terjadi begitu saja,namun tampaknya ia mulai merasa yang dilakukannya adalah hal yang benar, karena tak satupun janji mantan kekasihnya itu terpenuhi. Semua kata-katanya hanyalah fiksi, yang hanya membuat Sasya semakin menyesal dan sakit hati dengan semua pengorbanan yang telah ia lakukan.

No comments:

Post a Comment