Sekilas
Sekitar pukul 7 malam, arinsa baru saja selesai mengerjakan karya tulis yang akan dikirimkan ke DIKTI besok. ia pun beranjak dari kursinya dan meliuk-liukkan tangannya untuk mengurangi rasa pegal setelah seharian berada didepan laptop. Ia terkejut melihat sesosok laki2 memakai celana jins dan jaket kulit dan berkacamata hitam seperti preman, kemudian laki-laki itu membuka kacamatanya dan mendekati arinsa.
"udah selesai kan?" tanya ega
"hem" arinsa hanya mengangguk pelan
"aku mau mengajak kamu ke suatu tempat"
"maaf ga, lain kali aja ya, udah malem, lagian aku capek banget nih"
"sorry rin, kali ini aku agak maksa kamu, ada satu hal yang pingin aku omongin sama kamu"
setelah berpikir sejenak arinsa pun menuruti ega, meskipun ia sudah begitu letih dan mengantuk.
selesai makan malam, mereka segera menuju ke suatu tempat yang penuh dengan air, air yang berombak. dimana angin berhembus perlahan namun pasti, terkadang hingga menusuk ke relung hati, kadang juga sampai terasa sakit. dibawah pohon-pohon nyiur yang menjulang tinggi, ega mengajak arinsa untuk duduk di tempat yang cukup terang meskipun tidak ada bulan waktu itu. mereka hanya terdiam sejenak, ega juga tampak melayangkan pandangannya jauh entah kemana.
"sebelumnya aku minta maaf, udah maksa kamu pergi kesini..."
"ia gak papa kok, sekarang kamu bisa bilang tadi apa yang pingin kamu omongin sama aku?" tanya arinsa dengan jantung berdebar
"hmmm..... aku tahu ini akan membuatmu lebih sakit dari sebelumnya, tapi aku harus mengatakannnya, aku tahu kamu pernah menyukaiku, mungkin sampai sekarang, walaupun kamu gak mengatakannya. aku bisa merasakannya dari sikap kamu. tapi wanita itu ( Shania ) entah bagaimana ia mengambil hatiku begitu cepat, waktu itu, ia tersenyum pada setiap orang yang ditemuinya termasuk aku, pikirku bagaimana bisa oseorang gadis level atas seperti dia mau tersenyum padaku..........................................." (text missing)
"ia aku tahu kok, aku bisa tahu diri lah, tentang siapa aku, makanya aku gak pernah bilang tentang perasaanku sama kamu. lagian jadi temen kamu aja aku udah seneng banget kok, Ga." kata arinsa agak memalingkan mukanya untuk mengusap air mata yang hampir jatuh
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak mencintainya, dia lebih sering bersamaku dalam suka dan duka, tapi kenapa aku malah mencintai Shania yang tak bermoral itu" gumam ega dalam hati
"sorry rin, kali ini aku agak maksa kamu, ada satu hal yang pingin aku omongin sama kamu"
setelah berpikir sejenak arinsa pun menuruti ega, meskipun ia sudah begitu letih dan mengantuk.
selesai makan malam, mereka segera menuju ke suatu tempat yang penuh dengan air, air yang berombak. dimana angin berhembus perlahan namun pasti, terkadang hingga menusuk ke relung hati, kadang juga sampai terasa sakit. dibawah pohon-pohon nyiur yang menjulang tinggi, ega mengajak arinsa untuk duduk di tempat yang cukup terang meskipun tidak ada bulan waktu itu. mereka hanya terdiam sejenak, ega juga tampak melayangkan pandangannya jauh entah kemana.
"sebelumnya aku minta maaf, udah maksa kamu pergi kesini..."
"ia gak papa kok, sekarang kamu bisa bilang tadi apa yang pingin kamu omongin sama aku?" tanya arinsa dengan jantung berdebar
"hmmm..... aku tahu ini akan membuatmu lebih sakit dari sebelumnya, tapi aku harus mengatakannnya, aku tahu kamu pernah menyukaiku, mungkin sampai sekarang, walaupun kamu gak mengatakannya. aku bisa merasakannya dari sikap kamu. tapi wanita itu ( Shania ) entah bagaimana ia mengambil hatiku begitu cepat, waktu itu, ia tersenyum pada setiap orang yang ditemuinya termasuk aku, pikirku bagaimana bisa oseorang gadis level atas seperti dia mau tersenyum padaku..........................................." (text missing)
"ia aku tahu kok, aku bisa tahu diri lah, tentang siapa aku, makanya aku gak pernah bilang tentang perasaanku sama kamu. lagian jadi temen kamu aja aku udah seneng banget kok, Ga." kata arinsa agak memalingkan mukanya untuk mengusap air mata yang hampir jatuh
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak mencintainya, dia lebih sering bersamaku dalam suka dan duka, tapi kenapa aku malah mencintai Shania yang tak bermoral itu" gumam ega dalam hati